Beberapa bulan ini kita disuguhi berita yang berbau ‘uang’ menarik memang tapi membuat miris hati.
Kalau mereka para ‘atasan’ uang rakyat yang ‘dikemplang’ miliaran bahkan triliuan, pasti beda dengan pegawai ‘rendahan’ yang masih ‘rela’ mengumpulkan pecahan seribuan. Para ‘atasan’ yang tidak memberi contoh yang baik, pastilah yang ‘rendahan’ akan menirunya.
Siang tadi sepulang dari mengawasi ujian, aku mampir ke tempat penjilidan di daerah Undip Pleburan. Sambil menunggu aku memperhatikan sekeliling yang hiruk pikuk dengan arus manusia dan kendaraan. Semua tempat foto copy di sana penuh antrian. Tiba-tiba datang seorang lelaki berbaju batik coklat kuning ditutupi jaket hitam, celana panjang hitam, dan memakai topi.
Dia hanya mengatakan, “mbak” lalu penjaga toko datang dan mengulurkan uang 20 ribuan. Tanpa banyak cakap uang itu dikembalikan sebesar 17 ribu. Kemudian dia berlalu dan menghampiri tempat yang lain dengan style yang sama. Rasa penasaran membuat aku bertanya pada sang mbak penjaga.
“Lho mbak kok langsung diberi uang itu untuk apa?”
“Tidak tahu bu yang lain juga dimintai seperti itu”, jawabnya
“Apa setiap hari dan tidak ada tanda terimanya atau karcisnya?’
“Ya”, jawabnya singkat sambil beralih ke pelanggan lain.
“Wah, sehari berapa ratus bahkan mungkin juta rupiah”, gumamku. Mengingat di daerah itu banyak sekali tempat usaha yang didirikan.
Aku berpikir, seandainya itu tadi petugas tapi kenapa tidak ada karcis retribusinya atau kuitansi, terus uang itu disetor ke mana, siapa yang menerima, bagaimana pertanggungjawabannya atau auditnya, dan masih banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikiranku tanpa tahu jawabannya.
Sebegitu parahkah bangsa ini akan keberadaban, kebaikan moral bahkan di mana ketaqwaannya ?
Semua cara yang berkaitan dengan ‘uang’ terasa ‘halal’.
Menurutku ini ironis, satu sisi sensitivitas terhadap agama sangat tinggi tapi tidak diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Mari kita renungkan dan cari solusinya. Mestikah aku korek sendiri keterangan dari ‘petugas’ tersebut????
Untuk kita renungkan 2
April 1, 2010Untuk kita renungkan 1
April 1, 2010Kemarin aku menikmati naik bis kota, menyenangkan karena tidak penuh sesak, duduk nyaman. Tidak berapa lama, naiklah seorang ibu muda dengan 2 anaknya yang masih balita. Ibu ini tergolong cantik, tinggi dan trendi, dari jilbab sampai celana panjangnya serasi, bahkan sandal pun bermerk, penampilan juga terpelajar. Baru menjemput anak yang sekolah TK. Tanpa sadar aku perhatikan segala kegiatannya sejak dia naik. Aku berkesimpulan ibu ini begitu meperhatikan anak-anaknya. Selain ceria anak-anaknya juga berpakaian rapi dan bersih. Lalu bekal pun dibuka untuk diberikan anaknya. Ada kue dan susu.
Namun…..
dalam sedetik kekagumanku seketika sirna melihat dia buang sampah bekas bungkus makanan tadi secara sembarangan dilempar di dalam bis begitu saja tanpa rasa ‘pekewuh’ dengan lingkungan sekitar. Aku jadi bertanya pada diriku sendiri, bagaimana dengan anak-anaknya apakah mereka juga seperti itu? Bagaimana memberi pengertian tanpa contoh dari orang tua?
Ternyata …….
bangsa ini masih perlu pendidikan dalam segala bidang untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap Tuhan, sesama dan lingkungannya. Status sosial tidak menjamin seseorang menyadari akan pentingnya menjaga kebersihan dan lingkungan. Mari kita renungkan dan cari solusinya.
Ah…. mestinya aku punya keberanian untuk menegurnya karena dari satu langkahlah menuju banyak hal.
Ditulis oleh cahyojati