Materi UAS TIK AKSEL I

Juni 11, 2013

1. Dasar-dasar penggunaan internet/intranet
1.1 Menjelaskan pengertian internet/intranet
1.2 Dasar-dasar system jaringan di internet/intranet
1.3 Ukuran kecepatan akses internet
1.4 Perangkat keras yang digunakan dalam akses internet/intranet
1.5 Cara untuk memperoleh sambungan jaringan lokal (intranet)
1.6 Cara memperoleh sambungan internet

2. Menggunakan internet untuk memperoleh informasi
2.1 Akses internet sesuai dengan prosedur
2.2 Beberapa layanan informasi yang ada di internet
2.3 Mengakses beberapa situs untuk memperoleh informasi yang bermanfaat
2.4 Mengolah informasi dari internet dengan menggunakan program aplikasi

3. Prinsip-prinsip perubahan (konversi), penyaluran (transmisi), pemanfaatan,
dan pengelolaan energy
3.1 Gaya dan gerak yang bekerja pada suatu peralatan
3.2 Sistem transmisi tenaga komponen-komponen yang telah disediakan dan
menjelaskan prinsip-prinsip dasar penghitungan besaran
3.3 Bagian-bagian suatu peralatan/mesin yang dipilih
3.4 Mengidentifikasi sambungan langsung dan tak langsung pada roda gigi atau puli

4. Karya teknologi berupa peralatan/mesin berdasarkan rancangan sendiri dengan
menggunakan berbagai alat dan bahan yang sesuai
4.1 Mengidentfikasi permasalahan sebagai landasan untuk membuat produk/mesin
4.1 Prinsip-prinsip teknik untuk merancang dan membuat peralatan/mesin yang
dapat bergerak
4.2 Prinsip-prinsip teknik untuk merancang dan membuat peralatan/mesin yang
dapat bergerak

5. Prinsip-prinsip perubahan, penyaluran, pemanfaatan, dan pengelolaan energi,
serta membangun sistem
5.1 Bentuk-bentuk energi dan konversi energi dari suatu peralatan yang ada di lingkungan
sekitar
5.2 Sumber-sumber energy yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan

6. Model transmisi energi menggunakan bahan-bahan yang relative murah dan
mudah diperoleh
6.1 Sistem suatu transmisi energi yang dikenal
6.2 Sketsa (gambar teknis) suatu model transmisi energi


Syukurku

September 25, 2012

Tahun ini merupakan tahun berkat yang luar biasa bagiku. Serasa Tuhan memanjakanku. Bagaimana tidak, di awal tahun aku mengantarkan anak pertamaku memasuki kehidupan barunya, menikah. Dua bulan kemudian aku merayakan ulang tahun “Perak” bersama suami. Sebulan kemudian kami ke China sekalian (seperti bulan madu). Liburan tengah tahun aku bersama suami mendapat kesempatan ke Eropa dan di akhir liburan sekolah kami sekeluarga masih menyempatkan menikmati suasana pulau dewata, Bali. Luar biasa. Sungguh karunia yang patut di syukuri. Terima kasih Tuhan….


Tetap Bersyukur 1

Juli 29, 2011

Saat pertama kali aku memutuskan untuk kuliah kembali yang berbeda jurusan dengan latar belakang pendidikan S1 sebelumnya (Bimbingan dan Konseling IKIP Negeri Semarang sekarang UNNES) merupakan keputusan yang sangat kontradiktif. Bimbingan Konseling yang memberiku pemahaman tentang individu yang memiliki keunikan dan potensi yang harus dikembangkan telah aku geluti lebih dari sepuluh tahun.
Aku memutuskan kuliah S1 kembali di jurusan Teknologi Informatika yang saat itu belum masuk ke dalam kurikulum menjadi mata pelajaran. Kuliah ini membantu mengembangkan talenta yang aku miliki dan yang jelas membantu membuka wawasan tentang teknologi yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Kesulitan?? Wah, banyak dan kadang tidak tahu harus mengurai dari mana. Kuliah hari Senin sampai Jumat mulai pukul 17.00 – 21.00. Tetapi untunglah dosen di STMIK ProVisi Semarang yang rata-rata masih muda sabar mengajar dan teman-teman kuliah yang sangat membantu mengatasi kesulitan. Akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliah yang sangat membantuku menjadi guru TIK yang bersertifikasi.
SMPN 2 Semarang tempatku mengajar meraih predikat sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional sehingga ada beberapa mata pelajaran yang disampaikan dengan menggunakan bahasa Inggris termasuk TIK yang saat ini aku pegang. Ini merupakan tantangan yang kesekian kali. Kemampuan bahasa Inggrisku terbilang payah baik teori maupun percakapan. Hal ini dibuktikan waktu diadakan tes TOEFL hasilnya masih di bawah 500. Hasil yang di bawah standar tidak menyurutkan keinginanku untuk bisa lebih baik dalam berbahasa Inggris karena aku menyenanginya sejak siswa SMP.
Aku kembali memutuskan untuk kuliah S2 jurusan bahasa Inggris UNNES. Aku anggap kalau lolos tes berarti aku mendapat kesempatan untuk kuliah tetapi kalau tidak lolos cukup kursus saja. Ternyata aku bisa mendapat kesempatan itu dan berarti ada tantangan baru yang harus aku perjuangkan. Kesulitan lebih dari yang kubayangkan, mulai harus menyimak kuliah dosen yang hampir 100% bahasa Inggris, tugas yang setiap minggu harus dikumpulkan, literatur yang harus dibaca berulang kali agar memahami isinya, persiapan presentasi dan masih banyak lagi kesulitan yang lain. Sekali lagi perlu usaha keras, namun aku patut bersyukur teman seangkatan banyak membantu. Semester 1 bisa aku lewati dengan baik, namun semester 2 ada satu mata kuliah yang mendapat hasil C, kalau harus mengulang ya mesti dijalani dengan lapang dada, sekarang masuk semester 3 tentunya lebih besar lagi tantangannya karena persiapan presentasi dalam progress seminar.
Banyak hal yang sering tidak aku pahami mengapa hal ini terjadi, tapi itulah perjuangan konsekuensi dari sebuah keputusan. Kegagalan harus dicarikan jalan keluar dan aku beruntung bisa mendapat kesempatan ini. Satu hal lagi adalah tetap bersyukur dalam segala perkara.


Indonesia Engkau Kucinta

April 13, 2011

Kami merasa perlu menjunjung Indonesia dengan memulai usaha walau itu hanya ‘setetes embun’.
Ternyata di mana ada usaha di situ ada jalan. Sungguh suatu nikmat yang luar biasa.
Kami sekarang semakin meningkatkan komitmen bersama keluarga untuk ikut mencintai Indonesia secara nyata.
Kami membuka perpustakaan, internet, sanggar tari daerah, dan ketrampilan bagi warga secara gratis. Termasuk kami merintis untuk bea siswa walaupun sangat terbatas.
Kami beri nama ‘JATI SMART HOUSE’ Library, E-learning, and Creativity Center. Mohon dukungan dan bantuan untuk menyelesaikan Websitenya. Salam


Untuk kita renungkan 2

April 1, 2010

Beberapa bulan ini kita disuguhi berita yang berbau ‘uang’ menarik memang tapi membuat miris hati.
Kalau mereka para ‘atasan’ uang rakyat yang ‘dikemplang’ miliaran bahkan triliuan, pasti beda dengan pegawai ‘rendahan’ yang masih ‘rela’ mengumpulkan pecahan seribuan. Para ‘atasan’ yang tidak memberi contoh yang baik, pastilah yang ‘rendahan’ akan menirunya.
Siang tadi sepulang dari mengawasi ujian, aku mampir ke tempat penjilidan di daerah Undip Pleburan. Sambil menunggu aku memperhatikan sekeliling yang hiruk pikuk dengan arus manusia dan kendaraan. Semua tempat foto copy di sana penuh antrian. Tiba-tiba datang seorang lelaki berbaju batik coklat kuning ditutupi jaket hitam, celana panjang hitam, dan memakai topi.
Dia hanya mengatakan, “mbak” lalu penjaga toko datang dan mengulurkan uang 20 ribuan. Tanpa banyak cakap uang itu dikembalikan sebesar 17 ribu. Kemudian dia berlalu dan menghampiri tempat yang lain dengan style yang sama. Rasa penasaran membuat aku bertanya pada sang mbak penjaga.
“Lho mbak kok langsung diberi uang itu untuk apa?”
“Tidak tahu bu yang lain juga dimintai seperti itu”, jawabnya
“Apa setiap hari dan tidak ada tanda terimanya atau karcisnya?’
“Ya”, jawabnya singkat sambil beralih ke pelanggan lain.
“Wah, sehari berapa ratus bahkan mungkin juta rupiah”, gumamku. Mengingat di daerah itu banyak sekali tempat usaha yang didirikan.
Aku berpikir, seandainya itu tadi petugas tapi kenapa tidak ada karcis retribusinya atau kuitansi, terus uang itu disetor ke mana, siapa yang menerima, bagaimana pertanggungjawabannya atau auditnya, dan masih banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikiranku tanpa tahu jawabannya.
Sebegitu parahkah bangsa ini akan keberadaban, kebaikan moral bahkan di mana ketaqwaannya ?
Semua cara yang berkaitan dengan ‘uang’ terasa ‘halal’.
Menurutku ini ironis, satu sisi sensitivitas terhadap agama sangat tinggi tapi tidak diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Mari kita renungkan dan cari solusinya. Mestikah aku korek sendiri keterangan dari ‘petugas’ tersebut????


Untuk kita renungkan 1

April 1, 2010

Kemarin aku menikmati naik bis kota, menyenangkan karena tidak penuh sesak, duduk nyaman. Tidak berapa lama, naiklah seorang ibu muda dengan 2 anaknya yang masih balita. Ibu ini tergolong cantik, tinggi dan trendi, dari jilbab sampai celana panjangnya serasi, bahkan sandal pun bermerk, penampilan juga terpelajar. Baru menjemput anak yang sekolah TK. Tanpa sadar aku perhatikan segala kegiatannya sejak dia naik. Aku berkesimpulan ibu ini begitu meperhatikan anak-anaknya. Selain ceria anak-anaknya juga berpakaian rapi dan bersih. Lalu bekal pun dibuka untuk diberikan anaknya. Ada kue dan susu.
Namun…..
dalam sedetik kekagumanku seketika sirna melihat dia buang sampah bekas bungkus makanan tadi secara sembarangan dilempar di dalam bis begitu saja tanpa rasa ‘pekewuh’ dengan lingkungan sekitar. Aku jadi bertanya pada diriku sendiri, bagaimana dengan anak-anaknya apakah mereka juga seperti itu? Bagaimana memberi pengertian tanpa contoh dari orang tua?
Ternyata …….
bangsa ini masih perlu pendidikan dalam segala bidang untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap Tuhan, sesama dan lingkungannya. Status sosial tidak menjamin seseorang menyadari akan pentingnya menjaga kebersihan dan lingkungan. Mari kita renungkan dan cari solusinya.
Ah…. mestinya aku punya keberanian untuk menegurnya karena dari satu langkahlah menuju banyak hal.


Laporan Pelaksanaan CMT Kab. Demak

Agustus 11, 2008

Lain ladang lain belalang. Lain daerah lain kondisinya.

Selesai pelatihan CMT dari Kab. Kendal langsung hari Kamis s.d Sabtu tanggal 7 s.d 9 Agustus 2008 Pelatihan CMT di Kab. Demakyang dilaksanakan di SMKN 1 Demak.

Tanggapan yang dingin-dingin saja harus dihangatkan terlebih dahulu agar suasana yang kondusif dapat terjalin antara ST – CMT dan antar CMT itu sendiri. Setelah beberapa saat barulah bisa saling akrab dan pelatihan dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Pelunya support dari Dinas Pendidikan setempat serta koordinasi dan komunikasi dengan para peserta CMT, terutama kelanjutan dari Pelatihan PT mendatang. Peran Pengelola dari Balai TIKP dan ST sangat diharapkan untuk tetap memantau kelanjutan hasil pelatihan CMT ini.

Beberapa peserta CMT ternyata mampu mengembangkan potensi yang dimiliki pada saat presentasi modul. Selain menguasai materi juga sangat gamblang dalam menjelaskan baik dari SD, SMP, SMA, dan SMK. Namun demikian bagi peserta lain perlu meningkatkan kemauan dan rasa percaya dirinya untuk siap menjadi CMT di daerah masing-masing.

Kondisi lain adalah jardiknas tidak berfungsi dengan baik sehingga banyak sekolah yang tidak mengakses program-program yang ada. Cuma dipasang Antenanya tanpa ada tindak lanjutnya. Mohon perhatian Pustekkom. Edukasi.net, TVE, dan BSE perlu ditingkatkan agar isi tidak mengecewakan terutama untuk Guru SD.

Pada akhirnya terima kasih untuk semua, dari Kepala Dinas beserta jajarannya, Kepala SMKN 1 Demak, semua CMT, dan tentu saja Pustekkom yang mengembangkan program ini.

Salam manis,

Dra. Cahyo Kismurwanti